RUM SRAM DAN BAJAK LAUT PAPUA*
Biak-Numfor__ Dua pulau di utara Papua. Pantai timurnya, menghadap langsung ke Lautan Pasifik. Tak usah bertanya soal keindahan alam, apalagi bawah lautnya. Itu soal lumrah. Jamak di Indonesia. Mungkin berlebihan, Papua memang "sepotong surga" yang "jatuh ke bumi." Satu anugerah luar biasa dari Pencipta. Tak percaya ? Datanglah ke pulau Padaido. Air lautnya bening seperti cermin.
Jauh sebelum kaum sekolahan berbual soal pendidikan modern, orang Biak sudah terdidik. Tentu menurut ideal lokal. Rum Sram_ inilah sekolah mereka. Khas Biak. Satu bangunan dengan tinggi tak lebih delapan meter. Dirumah inilah, kaum lelaki yang telah memasuki masa remaja di latih. Mulai memahat, buat perisai, melaut, hingga berlatih ilmu tempur darat dan laut. Sejatinya, Rum Sram, adalah asrama mendidik ksatria Biak.
Ada satu hal keliru dan tak baik diteruskan. Seolah hanya pelaut Makassar, Bajo, Bugis, Mandar, Buton, Sangihe, Ternate Dan Tidore, yang dominan di perairan Timur Nusantara saat itu. Pelaut Biak (seperti Tobelo) pernah punya masa terbaik, dimana mereka begitu kuat dan mengontrol laut sekitar Papua, Maluku, juga Sulawesi. Bahkan, karena itu secara serampangan mereka dituduh sebagai "Bajak Laut Papua".
Saat Sultan Nuku terdesak dalam perang panjang melawan Belanda (1780-1810), bersama Pelaut Tobelo, orang-orang Seram, dan pejuang dari Mindanao, para "Bajak Laut Biak" bahu-membahu membebaskan Tidore dan merebut kembali Ternate. Tak sedikit orang Biak yang gugur. Soal ini tak boleh dilupakan. Orang-orang hebat dari Biak-Numfor begitu setia dengan aliansi kawasan yang ingin ditegakkan oleh Nuku saat itu.
Belanda, dendam kesumat. Benci karena orang Biak-Numfor ikut dalam soal politik. Akhir 1800-an, jelang dimulainya sekolah modern politik etis, Belanda hancurkan seluruh Rum Sram di Biak. Rum Sram dilarang dan disebut ilegal. Pelan tapi pasti, Orang Biak "melemah di laut, dan terkunci di darat". Peristiwa ini, telah membatasi hubungan orang Biak-Numfor dengan "dunia luar."
Belanda mendirikan pemerintahan formal pertama kali di Biak, pada 17 Juli 1918 dan menempatkannya dibawah Kerasidenan Ternate. Saat Bung Karno menggelar operasi Trikora, Belanda masih sebut wilayah Biak-Numfor sebagai Kepulauan Schouten atau Schouten Eilanden. Belakang hari, Jakarta memutuskan Tidore jadi Ibu Kota Irjabar(Irian Jaya Barat), orang Biak terima dan menganggapnya sebagai hal lumrah.
Kebangsaan kita berakar panjang dan melewati pergumulan yang luar biasa. Tradisi Maritim orang Papua khususnya Biak-Numfor jejaknya bahkan terentang sebelum Abad Delapan Masehi. Ini adalah warisan besar. Tak cukup "berkhotbah" tentang NKRI Harga Mati. Kita Harus bekerja lebih maju lagi. Saling memahami dan benar-benar mau mendengarkan apa yang menjadi suara hati tiap pihak.
Tahun 1990-an, Bandara Manuel Kaisiepo Biak terhubung penerbangan langsung Internasional Bali-Biak-Honolulu-Los Angeles. Lalu, ditutup tanpa kejelasan. Rusia ingin jadikan Biak titik peluncuran satelit. Mereka ingin serius bangun Biak. Jakarta hentikan sepihak. Kini, tak ada kabar lagi. Rencana Biak jadi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) seperti Bitung, pun tak lagi dibahas. Soal seperti ini tentu fatal jika Jakarta hanya diam seribu bahasa.
Sayup-sayup tetabuhan gendang dan teriakan semangat Pelaut Biak diatas Wairon (perahu layar) memecah malam. Dipimpin Suprimanggun (nakhoda), dan Mambri (panglima perang), mereka menyusuri Teluk Cendrawasih. Di langit, mereka dipandu oleh bintang Sawakoi (Orion) dan Romanggwandi (Scorpio). Inilah bintang penuntun Pelaut Biak di lautan luas.
Cerita seperti ini sering kali dibawa melalui teks diskusi hikayat, maka dari itu tidak jarang bhwa kita memerlukan pengetahuan mengenai kata kajian untuk memahami teks ini.
Terima kasih telah berkunjung
Comments
Post a Comment